GARUDATRIBUNE.COM – Surabaya, Jawa Timur : Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap seorang anak laki-laki berinisial MAN (7 tahun) di kawasan Tanah Merah, Surabaya, mengundang perhatian publik setelah viral di media sosial. Menanggapi hal ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak cepat untuk memastikan pemulihan korban serta memberikan dukungan kepada keluarga agar kejadian serupa tidak terulang.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya, Ida Widayati, mengungkapkan bahwa timnya langsung turun ke lokasi untuk melakukan penjangkauan dan pendampingan psikologis kepada korban.
“Kami prihatin dengan kejadian ini dan segera mengambil langkah untuk memastikan korban mendapatkan perlindungan serta pemulihan yang dibutuhkan,” ujar Ida saat ditemui di Surabaya, Minggu (30/3/2025).
Kronologi dan Dampak Kekerasan
Berdasarkan laporan yang diterima DP3APPKB, peristiwa kekerasan terjadi pada Jumat (29/3/2025) malam. Sang ibu, Septi Nia Suryana, diduga memukul anaknya dengan sapu dan botol air mineral setelah uang yang disimpannya untuk kebutuhan Lebaran hilang. Tak hanya itu, korban juga sempat dipaksa keluar rumah pada malam hari, yang membuatnya mengalami luka memar di beberapa bagian tubuh.
Saat ini, kondisi korban berangsur membaik setelah mendapatkan pendampingan dari tim psikolog. “Anak tersebut sudah mulai menunjukkan kedekatan kembali dengan ibunya dan mengungkapkan rasa sayangnya,” jelas Ida.
Pendampingan dan Langkah Konkret Pemkot
Menindaklanjuti kasus ini, Pemkot Surabaya telah mengambil berbagai langkah konkret. Pendampingan psikologis terus diberikan agar trauma yang dialami korban dapat dipulihkan. Selain itu, DP3APPKB juga memberikan psikoedukasi kepada korban terkait pentingnya keamanan diri, terutama agar tidak keluar rumah tanpa pengawasan orang tua.
Di sisi lain, ibu korban juga mendapat bimbingan psikologis agar tidak mengulangi tindakan kekerasan. “Kami menyarankan agar ibu korban menjalani pemeriksaan psikologis untuk memastikan kesejahteraannya secara mental,” tambah Ida.
Tak hanya berfokus pada pemulihan korban, Pemkot Surabaya juga menggandeng perangkat RT/RW setempat untuk memastikan kondisi keluarga ini tetap dalam pemantauan. Hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya kekerasan serupa di kemudian hari.
Pemberdayaan Ekonomi untuk Mencegah Kekerasan Berulang
Salah satu faktor pemicu kekerasan dalam rumah tangga adalah tekanan ekonomi. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya tidak hanya memberikan bantuan psikologis, tetapi juga memberdayakan ibu korban secara ekonomi. Pemkot akan membantu mengajukan permohonan bantuan usaha agar ibu korban dapat memiliki penghasilan tetap tanpa harus meninggalkan anaknya.
“Kondisi ekonomi yang sulit sering kali menjadi pemicu stres yang berujung pada tindak kekerasan. Oleh karena itu, kami berupaya memberikan solusi dengan membantu ibu korban mendapatkan penghasilan yang stabil agar dapat merawat anaknya dengan baik,” tegas Ida.
Selain itu, pihaknya juga akan membantu mengalihkan status BPJS korban dari mandiri ke PBPU dan PB agar beban finansial keluarga lebih ringan.
Ajakan untuk Masyarakat dan Pencegahan Kasus Serupa
Sebagai bentuk pencegahan, Pemkot Surabaya mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Jika menemukan kasus kekerasan terhadap anak, masyarakat diharapkan segera melaporkan ke pihak berwenang agar dapat ditangani dengan cepat.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak ragu melaporkan tindak kekerasan terhadap anak. Jangan hanya menjadi penonton, karena keselamatan anak adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Ida.
Ia juga meminta agar masyarakat lebih bijak dalam menyebarkan informasi di media sosial. “Jangan terburu-buru menyebarkan informasi yang belum terverifikasi agar tidak menimbulkan kepanikan dan kesalahpahaman di masyarakat,” pesannya.
Dengan berbagai langkah yang dilakukan, Pemkot Surabaya berharap kasus ini menjadi pembelajaran agar kekerasan terhadap anak dapat dicegah. “Kami berkomitmen untuk terus mendampingi korban hingga benar-benar pulih, serta memastikan ibu korban mendapatkan dukungan yang dibutuhkan agar dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan anaknya,” pungkas Ida.
Pewarta: Sunadar
Editor: Rosiani Lutfhi
Copyright©GarudaTribune.com 2025
















